Jadi Boss di Rumah Sendiri bermodalkan Kepercayaan dan Keyakinan
@dakita Kabupaten Madiun – Bosan menjadi seorang pegawai dan ingin merasakan menjasi seorang boss, itulah yang dalam pikiran Lestari(43) warga Desa Bangunsari Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun sehingga memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya sebagai buruh sebuah pabrik Playwood di wilayah Kabupaten Madiun.
Setelah keluar dari pekerjaanya, Lestari kemudian bekerja sama dengan bekas pabrik playwood dimana dia dulu bekerja untuk membuka usaha pengeleman lembaran kulit kayu yang digunakan sebagai bahan lapisan pembuatan triplek.
Dalam membuka usaha ini, lestari mengaku hanya bermodalkan keyakinan dan kepercayaan saja juga sedikit bantuan dari suami yang masih bekerja di pabrik playwood tempat kerjanya dulu.
“dalam membuka ini, saya cuman bermodalkan kepercayaan dan keyakinan saja, disamping itu juga ada bantuan dari suami saya yang masih berstatus pegawai di pabrik playwood tempat saya kerja dulu. Bantuan dari suami hanya sebatas sebagai perantara saja dengan pihak manajemen pabrik untuk perolehan bahan baku kulit kayu serta masalah pemasaran”
Pada awal berdirinya usaha yang dirintisnya sejak pertengahan tahun 2010 yang lalu, lestari hanya di bantu oleh 6 orang pekerja saja. Namun karena semakin banyaknya permintaan lembaran kulit kayu untuk industri triplek, Lestari akhirnya menambah jumlah pegawainya.
Jumlah pegawai Lestari saat ini berjumlah 24 orang yang sebagian besar merupakan penduduk Desa Bangunsari dan sekitarnya, namun ada pula diantara mereka yang berasal dari Madiun.
“Awalnya pekerjanya hanya 6 orang saja, tapi berhubung permintaan lembaran kulit kayu semakin banyak akhirnya saya harus menambah pekerja, hingga saat ini jumlah pekerja saya ada 24 orang”ujarnya
Ketika di tanya tentang omzet dari usahanya ini, Lestari dengan rendah hati menjawab bahwa usahanya ini hanyalah sebuah usaha sambilan dengan sistim borongan. Karena tidak dapat diselesaikan sendiri makanya dia mengambil tenaga kerja, jadi hasil yang seharusnya dia peroleh dibagi dengan para pekerjanya.
“kalau ditanya soal omzet jadi binggung jawabnya, sebab sebenarnya ini adalah pekerjaan sambilan dengan sistem borongan. Hasil yang di dapat ya saya bagi-bagi dengan para pekerja sesuai dengan jumlah lembaran kulit kayu yang dapat diselesaikannya. Jadi omzetnya tidak menentu juga, tapi bagi saya sudah cukup untuk menghidupi keluarga dan sekolah anak-anak” ujarnya kepada teman @dakita.com
pernyataan Lestari juga di benarkan oleh Titin (28), salah satu pekerja yang sudah 6 bulan bekerja di tempat Lestari.
“ini cuman kerja sambilan aja kok mas daripada ngnggur dirumah cuman nunggu suami pulang kerja, lagian lumayan untuk tambahan uang belanja dan untuk uang jajan anak,” Ujar Titin
Titin juga menuturkan bahwa pengerjaan pengleman kulit kayu hingga menjadi selembar kulit kayu berukuran 3X1,5 Meter, dirinya hanya mendapat upah Rp 500 per lembar. dalam sehari Titin dan teman-teman yang lain sehari bisa menghasilkan antara 30-45 lembar.
Dari 26 pekerja yang berada dirumahnya, industri pengeleman lembaran kulit kayu milik Lestari mampu menghasilkan kurang lebih 20 box tiap bulannya. 1 box berisi 100 lembar kulit kayu berukuran 3mX1,5m untuk dikimkan ke salah satu pabrik playwood di madiun dan beberapa pabrik playwood di kota jombang. (Alucard)
Keterangan Gambar : Proses produksi pengeleman lembaran kulit kaya
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF






