Pengerajin Topeng Bujangganong Mencoba Bertahan

@dakita Ngawi -Makin terkikisnya budaya tradisionl, Sukiman, (45), warga dusun Balerejo, desa Kasreman Geneng ngawi ini mencoba bertahan dengan menekuni usahanya dari memproduksi hingga memasarkan PENTHUL, sejenis topeng yang biasa dikenakan penari guna mengiringi pagelaran Reog atau sejenisnya.
Seperti yang dituturkan Sukiman, dirinya yang keseharian sebagai buruh tani dengan keuletan demi mencukupi ekonomi keluarga terpaksa harus berjualan keliling ke berbagai daerah untuk menjajakan barang daganganya yang biasa dikatakan unik serta klasik. “Memang dulunya saya sebagai pedagang asesoris reog di pasar malam keliling dari daerah satu kedaerah lainya itupun sebenarnya tidak seberapa dibanding keuntunganya, namun apa boleh buat untuk menghidupi keluarga segala resiko saya jalani apa adanya,” terang Sukiman, Rabu(1/2) Kepada Liputanmadiun.
Namun lama kelamaan usaha berjualan asesoris reog yang dirintis oleh bapak dua anak tersebut mulai surut akhirnya memutuskan untuk berhenti berjualan keliling di setiap pasar malam. “Pada waktu itu anak saya masuk sekolah SMA terpaksa untuk memenuhi kebutuhan saya memutuskan membuat topeng ganongan dan asesoris reog lainya secara sendiri agar keuntunganya bisa lebih,” tuturnya. Meskipun selama dua tahun terakhir.
Sukiman terjun langsung sebagai pengrajin topeng bujangganong itupun masih terbilang pengrajin finishing. Dimana untuk membeli bahan setengah jadi yang sudah berupa wajah topeng ganongan, Sukiman harus mendatangkan bahan tersebut dari daerah Kecamatan Sumoroto, Kabupaten Ponorogo seharga Rp 5 ribu. Selanjutnya oleh Sukiman wajah topeng yang bersifat mentahan tersebut diberi asesoris seperti dicat warna merah dan dilengkapi dengan rambut yang berasal dari rambut ekor sapi dan pernik-pernik lainya. Seperti pengakuan Sukiman rambut sapi sengaja didatangkan dari Jombang menurutnya dari daerah tersebut mutunya lebih bagus daripada dari daerah lainya.
Untuk produksi 1 unit topeng bujangganong, Sukiman harus rela merogok kocek yang dalam dengan mengeluarkan ongkos Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu. Dana tersebut dipakainya untuk membeli asesoris pelengkap mulai cat, rambut dari bulu sapi dan kain warna merah. Bahkan tak jarang dia harus rela menggadaikan dulu beberapa barang miliknya untuk mencukupi biaya produksi.
“keterbatasan saya adalah modal, bahkan sempat beberapa waktu yang lalu pernah menggadaikan barang untuk memenuhi kebutuhan dari kerajinan ini biar tidak macet ditengah jalan,” ujarnya.
Setelah jadi, 1 unit topeng bujangganong dijualnya senilai Rp 28 ribu- Rp 30 ribu. Namun apabila sudah sampai ke tangan tengkulak, harga 1 buah topeng bujangganong miliknya bisa mencapai harga Rp 40 ribu perbuah. “Kalau di Tanya soal keuntungan sudah pasti mepet sekali tapi masih untung daripada saya berjualan seperti dulu dimana saya harus kulakan barang yang harganya sudah lumayan tinggi,” tutur Sukiman.
Meski jumlah kerajinan topeng bujangganong yang dihasilkanya terbatas namun sudah menembus pasar diberbagai wilayah seperti Solo, Tulungagung dan Cepu.(Ton)
Keterangan Gambar : Topeng Bujangganong produksi Sukiman
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF






