Awetnya Citarasa Es Dawet Kertobanyon

KABUPATEN MADIUN – Ketika melintas di jalur Madiun-Ponorogo dan merasa haus sekaligus perut keroncongan, cobalah mampir ke Dawet Kertobanyon, di Desa Kertobanyon, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Cita rasa khas dawet yang awet dipertahankan secara turun temurun selama hampir 50 tahun oleh keluarga Ina Budiarti itu menjadi daya tarik khusus yang layak dicicipi.
Warung dawet tersebut berdiri di sisi utara jalan utama. Kalau dari arah Madiun, warung itu berdiri di kiri jalan, kalau dari Ponorogi di sebelah kanan. Mencarinya tidak sulit, karena di depan warung terpampang tulisan “Es Dawet Kertobanyon” dalam spanduk besar di depan warung.
Nama warung es dawet yang berdiri tahun 1963 itu sesuai dengan nama tempat di mana warung itu berdiri. Kendati banyak konsumen yang datang dari mana-mana, warung dawet ini tidak pernah membuka cabang seperti warung makanan lain. Jadi, dawet Kertobanyon hanya ada di Kertobanyon.
Dawet Kertobanyon memang bukan dawet biasa. Berisi cendol, bubur sumsum, ketan hitam, irisan pisang kepok plus ramuan pemanis khusus dari gula Jawa dan es batu, menjadikan rasa dawet Kertobanyon awet di lidah. Dengan banderol Rp 2.000 per porsi, pengunjung dijamin puas.
Biasanya, sembari menikmati dawet, pelanggan juga mencicipi berbagai macam gorengan yang juga disediakan pemilik warung. Semakin lengkaplah pemanja lidah kita. Daya tarik dawet Kertobanyon ini bisa dibilang ampuh. Warung tidak pernah sepi. Mulai buka pagi sampai tutup sore menjelang Magrib, warung Bu Ina ini tidak pernah sepi pembeli.
Yang datang dari seluruh wilayah eks Karesidenan Madiun, meliputi Kota dan Kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, sampai Pacitan. Tak jarang orang luar daerah yang melintas di situ menyempatkan diri mampir dan mencicipi dawet Kertobanyon.
”Rasanya unik. Seperti ada campuran antara dawet dengan kolak pisang. Seger di mulut dan tenggorokan,” kata Tri Handayani, warga Ponorogo yang mengaku sering mampir ke warung es dawet Kertobanyon tiap kali menuju atau habis dari Madiun.
Karena citarasa manis-segar yang menggugah selera itu, tak heran jika dalam sehari 1.000 porsi dawet ludes terjual. Omzet Rp 2 juta per hari pun berhasil diraup Ina Budiarti. Kalau Anda penasaran, seperti apa sih rasa dawet itu kok laris? Silahkan datang sendiri dan cicipi. Dan Anda akan tahu sendiri kenapa dawet itu berhasil memikat banyak orang.(tofikpram)
KETERANGAN FOTO
MANIS-SEGAR: Menu es dawet Kertobanyon.
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF






