Makna dan Tujuan Hidup

Makna dan Tujuan Hidup
”BERIBADAHLAH seakan besok kamu akan mati, dan bekerjalah seakan kamu akan hidup seratus tahun lagi.”

Dalam hadist yang diriwayatkan para sahabat, secara eksplisit Nabi Muhammad SAW mengajarkan pada umatnya tetang keseimbangan dalam menjalani hidup, antara kebutuhan yang bersifat rohaniah dan kebutuhan jasmaniah. Kebutuhan rohaniah untuk konsumsi batin sebagai keseimbangan emosional kejiwaan manusia, dan kebutuhan jasmani yang besifat duniawi, yakni pemenuhan kebutuhan fisik manusia dengan segala macam perniknya.

Jika kita pikirkan, apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup kita? Banyak pandangan tentang kehidupan. Dalam falsafah Jawa ada pertanyaan; kowe ki sopo? Asalmu soko ngendi? Arep nyapo? Lan arep menyang ngendi? “(Kamu itu siapa? Asalmu dari mana? Mau apa? Dan mau ke mana?)”.

Perspektif pertanyaan “kowe ki sopo?” mengandung pengertian untuk merefleksikan terhadap diri kita, bahwa siapa sebenarnya diri kita. Apa yang kita miliki? Termasuk apa yang bisa kita perbuat atas situasi yang ada. Dan masih banyak lagi yang menyangkut persoalan jati diri kita. Karena pada dasarnya pertanyaan kowe ki sopo adalah pertanyaan untuk mengungkap jati diri kita, sehingga kita bisa tahu tentang kemampuan hidup kita.

Perspektif dari pertanyaan “asalmu soko gendi?” mengandung pembelajaran untuk mengetahui dari mana kita berasal. Itu merupakan pengungkapan yang menuntun kita untuk menelusuri latar belakang kehidupan kita. Dengan demikian, kita menyadari dari mana kita berasal. Bukankah seharusnya kita akan menyadari pula keberadaan kita sekarang? Siapa yang menciptakan diri kita? Dan dari mana kita diciptakan?

Perspektif dari pertanyaan “arep nyapo?” merupakan bentuk kesadaran apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita telah menyadari jati diri kita sebagai manusia. Setelah kita menyadari siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Ketika kita menyadari hal tersebut, maka tidak lah sulit bagi kita utuk menentukan peran kita sebagai individu, sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat, sebagai warga negara, sekaligus sebagai khalifah yang diturunkan Tuhan ke muka Bumi.

Perspektif dari pertanyaan “arep menyang ngendi?” adalah sebuah ungkapan untuk menuntun hidup kita pada tujuan akhir kehidupan kita. Dengan menyadari jati diri dan keberadaan kita di dunia, maka kita dapat menyadari atas apa yang seharusnya kita lakukan dan akan lebih bisa berfikir jernih terhadap akibat perbuatan yang kita lakukan.

Ada argumen kaum pesimistis dalam menafsirkan makna dan tujuan hidup, yakni definisi negatif mereka tentang kebahagiaan. Kata mereka yang pesimis, jika toh kebahagiaan itu ada, paling jauh hanya bisa didefinisikan secara negatif: “kebahagiaan ialah tidak adanya kesengsaraan.” 

Hal-hal positif, seperti kelengkapan organ tubuh kita sendiri, justru tidak menimbulkan rasa kebahagiaan berarti karena dianggap lazim lagi lumrah. Tetapi, jika suatu bagian dari tubuh kita terpotong, oleh suatu kecelakaan, misalnya, maka kesengsaraanlah yang timbul. Dan bersama dengan itu, suatu gambaran kebahagiaan yang pekat timbul dalam pikiran kita ketika mengandaikan kecelakaan itu tidak pernah terjadi, atau kalau saja organ itu kembali utuh seperti semula.

Karena kebahagiaan itu negatif, maka ia tidak mengandung kesejatian alias palsu. Itulah sebabnya, dalam hidup tidak ada kebahagiaan, atau lebih tegasnya, hidup pada hakikatnya adalah kesengsaraan. Meskipun masa lalu senantiasa dirindukan, dan masa depan selalu diimpikan, tapi, kata kaum pesimis, semuanya tidak hakiki. Yang hakiki hanyalah sekarang. 

Berhubung “sekarang” terdiri dari deretan atom waktu yang terus bergerak menjadi masa lalu, maka “sekarang” pun bukanlah hal yang memadai. Maka tipikal ucapan kaum pesimis ialah “segala yang lalu telah tiada, segala yang akan datang belum terjadi, dan segala yang ada sekarang tidak memadai” (all that was is no more, all that will be is not yet, and all that is is unsufficient). 

Jadi, merindukan masa lampau adalah sia-sia, memimpikan masa depan adalah tetap impian belaka, dan menjalani hidup sekarang tidak cukup menarik. Lalu, untuk apa hidup? Bukankah, kalau begitu, keberadaan kita di dunia ini adalah peristiwa yang terjadi secara kebetulan belaka, tanpa makna maupun tujuan, bahkan tanpa hal yang benar-benar menyenangkan?

Kenyataan bahwa umum­nya orang menjadi dengki (hasad) campur kekhawatiran (fearful envy) terhadap orang lain yang dikira bahagia atau beruntung, menunjukkan betapa sebenarnya orang yang dengki itu tidak pernah merasakan kebahagiaan atau keberuntungan, dengan akibat pikirannya selalu dipenuhi oleh dambaan tak terkendali akan kebahagiaan yang dikiranya ada pada orang lain. 

Dengki adalah sikap yang paling tidak rasional, tapi justru itu yang agaknya paling riil di dunia ini. Tragisnya, setiap kedengkian semakin mempertegas kesengsaraan, akibat langsung adanya pembandingan dengan orang lain. Sehingga, seperti lingkaran setan, sekali suatu kedengkian terjadi, ia akan tumbuh tanpa terkendali, dan biasanya berakhir dengan permusuhan. 

Ironisnya, permusuhan itu bermula atas sesuatu yang semu belaka. Karena kedengkian itu semu namun sangat menggoda, maka, kata filsuf Jerman Schopenhauer, hanya orang yang cukup rasional saja yang bisa membebaskan diri dari kedengkian dan menarik diri secara total dari keinginan semu, lalu kembali menghadapi hidup seperti apa adanya secara berani.

Penyebutan masalah kedengkian atau hasad di atas itu dilakukan dalam kaitannya dengan masalah kebahagiaan yang semu dan mustahil, dan kesengsaraan yang bagi kaum pesimis melekat pada hakikat kehidupan manusia.  

Kembali kepada awal argumen, kesengsaraan manusia yang final dan tak bisa tidak ialah kematian. Kematian selalu tragis dan menakutkan. Pasalnya, ia merupakan akhir dari kemungkinan manusia meraih hal berharga bagi dirinya dalam kehidupan. Maka, meski filsuf Rusia Tolstoy mengajukan bunuh diri sebagai solusi terbaik bagi masalah hidup manusia, ia toh masih harus memberi kualifikasi kepada orang yang melakukannya sebagai “orang-orang kuat luar biasa dan teguh”.

Tapi, justru dari masalah kematian ini kaum optimis, yaitu mereka yang berpendapat tentang adanya makna dan tujuan hidup, membalikkan argumen kaum pesimis. Telah dikatakan di muka, tidak semua kaum optimis adalah agamawan, karena di dalam kelompok ini termasuk pula, misalnya, kaum komunis.  Sekalipun begitu, semua kaum optimis melihat hidup ini cukup berharga (worthwhile), dan tidak masuk akal bahwa mati lebih baik daripada hidup. 

Mereka ini melihat inkonsistensi kaum pesimis mengenai argumen mereka. Jika benar kematian itu tragis dan menakutkan, maka memandang mati sebagai lebih baik daripada hidup adalah suatu kontradiksi. Jika mati lebih baik daripada hidup, seharusnya premisnya berbunyi: mati lebih menyenangkan, atau kurang menakutkan, daripada hidup. Tapi pernyataan mereka sendiri, seperti menjadi dasar pandangan Schopenhauer, Darrow dan Tolstoy, justru paling tegas dalam melihat kematian sebagai kesengsaraan final yang secara ironis mutlak tak terelakkan oleh manusia hidup. Lebih dari itu, kaum pesimis pun melihat pembunuhan (yakni, tindakan sengaja mematikan orang lain) adalah sebagai tindakan kejahatan.

Maka, pertanyaan mendasar buat mereka ialah, mengapa kematian disebut kesengsaraan, dan pembunuhan suatu kejahatan? Jawaban yang logis, tentunya, ialah hidup, bagaimana pun, lebih baik daripada mati. Maka “menghidupkan” atau “menghidupi” orang lebih baik daripada “mematikan”-nya.

Hampir setiap orang menganut pandangan bahwa hidup ini cukup berharga, sekurang-kurangnya sebelum ia menyadari bahwa akan berakhir dengan kematian. Kesadaran akan pasti datangnya kematian yang membuat semua kegiatan menjadi muspra itu, bagi sementara orang, memang bisa membuatnya putus asa begitu rupa sehingga menghalanginya untuk melakukan tindakan bermakna dalam hidup-nya. 

Tapi ke-putusasa-an itu bukan suatu kemestian yang mutlak tak terhindarkan. Ia bisa dihindari, dan kebanyakan orang mampu menghindarinya. Sedangkan sikap berlarut-larut dalam keputusasaan adalah suatu gejala sakit dan tidak wajar. Dalam kewajaran, sebagaimana terjadi pada umumnya orang, bahkan ketika seseorang merasa kurang mampu pun, biasanya orang masih berusaha sedapat-dapatnya mewujudkan keinginan atau cita-citanya. Ini mencerminkan adanya harapan, dan harapan itu bertumpu kepada pandangan bahwa hidup ini cukup berharga untuk dijalani dengan penuh minat dan sungguh-sungguh.

Maka, di balik argumen kaum pesimis pun, tanpa mereka sadari, masih terselip pandangan bahwa hidup ini cukup berharga, karena mempunyai makna dan tujuan. Tujuan hidup ialah memperoleh kebahagiaan, betapapun mereka katakan mustahil, dan makna hidup ada dalam usaha mencapai tujuan itu, betapapun mereka katakan ilusif. 

Hampir tidak ada orang yang mengaku tidak mempunyai makna dan tujuan hidup. Sebab setiap orang mempunyai tujuan yang cukup berharga untuk diperjuangkan agar terwujud. Dan pada kenyataannya hampir setiap orang berjuang untuk mempertahankan dan mening­katkan taraf hidupnya, biar pun ia mungkin merasa sengsara di dunia ini.  Namun adanya harapan dalam hati menjadi penyangga kekuatan jiwanya untuk tetap hidup, kalau dapat selama mungkin, di dunia ini.(SITI RAHAYU)

 

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Share this :

Berita "Spiritual Kita" Lainnya

jual mobil

Dijual Honda Jazz 05 silver. Nopol AE kota. Body mulus kondisi istimewa. hub www.adakita.com
www.adakita.com

jual mobil

Dijual Panther Hi Grade'94 warna biru kondisi bagus hub:7766846
http://www.adakita.com

jual mobil

Dijual Baleno th 2000 warna hijau, mulus minat hub 7766846
http://www.adakita.com

jual rumah

Dijual rumah terletak di perumahan Cempaka Raya Regency. fasilitas PDAM. listrik. kitchen set. 3 kam...
http://www.adakita.com

jual mobil

Dijual Taft Rocky Tahun 1993. kondisi mulus istimewa. NoPol AE. hub 0351-7785259
http://www.adakita.com

jual mobil

Dijual mobil taruna CSX EVI, merah silver. kondisi istimewa. harga Nego (0351-7785259)
http://www.adakita.com