Membedakan "Kita" dan "Kami"

ADA yang sedikit janggal dengan pemilihan kata ganti yang seringkali dikutipkan di berbagai media, baik cetak, online, bahkan televisi. Kata ganti itu adalah “kami” dan “kita”.
Secara umum, kedua kata ganti itu menginterpretasikan individu dalam jumlah yang sama; minimal dua orang. Keduanya kata ganti untuk orang jamak. Tentu beda antara aku dan kamu yang mewakili individu tunggal.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, arti kedua kata ganti itu beda. “Kami” adalah kata ganti jamak untuk orang pertama dengan ketiga. Sedangkan “kita” menginterpretasikan antara orang pertama dan kedua.
Dalam bahasa teori komunikasi, Harold D Laswell punya teori. “Kita” itu digunakan ketika komunikator (yang menyampaikan pesan) dengan komunikan (yang menerima pesan) terlibat dalam sebuah situasi yang sama. Sedangkan dalam “kami”, si komunikator membangun jarak dengan komunikan, atau tidak melibatkannya dalam sebuah situasi. Komunikator menempatkan diri dalam satu kesatuan dengan orang ketiga. Orang itu bisa komunikan sekunder bisa juga audiens yang terlibat situasi yang sama dengan komunikator.
Ada situasi tertentu di mana orang bisa menggunakan kata ganti “kita”. Misalnya dalam kalimat, “Mari kita makan.” Dalam kalimat itu, orang pertama mengajak orang kedua makan. Itu sama artinya orang pertama mengajak orang kedua terlibat dalam sebuah situasi yang sama.
Tentang kata ganti “kami”, ada juga beberapa situasi yang jadi syarat di mana kata ganti ini bisa digunakan. Misalnya, “Kami sudah menunggu Anda dari tadi.” Dalam kalimat ini, orang pertama membangun jarak dengan orang kedua, dan menempatkan posisinya sebagai satu kesatuan dengan orang ketiga. Yang menunggu adalah orang pertama dan ketiga, sementara orang kedua tidak. Orang kedua tidak terlibat dalam sebuah situasi yang sama dengan orang pertama.
Nah, yang sering bikin saya bingung, kadang ada teman-teman wartawan memilih kata “kita” sebagai kata ganti. Padahal dalam pembicaraan itu, sebagai orang pertama (wartawan) tidak sedang berada dalam situasi yang sama dengan orang kedua (narasumber).
Ambil contoh ketika seorang wartawan mewawancarai pejabat kepolisian yang menangani sebuah kasus. Kebanyakan wartawan itu menggunakan kalimat langsung seperti ini; “Kita sedang mengembangkan penyelidikan.”
Dalam interpretasi kalimat tersebut, apakah si wartawan, katakanlah sebagai orang kedua yang mencari sumber informasi dari orang pertama (narasumber atau komunikator) terlibat dalam situasi yang sama dengan si polisi? Apakah wartawan itu ikut menangani kasus dalam situasi yang sama dengan si polisi?
Jawabannya, tidak. Memang boleh wartawan ikut menyelidiki sebuah kasus untuk mendapatkan berita yang eksklusif, tapi cara yang digunakan berbeda dengan polisi yang ditanyainya tadi. Metode yang digunakan wartawan dengan si polisi juga beda. Intinya, keduanya tidak pernah terlibat situasi yang sama meski tujuannya sama. Jadi lebih tepat kalau si wartawan dalam naskahnya menuliskan kalimat langsung “Kami sedang mengembangkan penyelidikan.”
Pemilihan kata ganti inilah yang seringkali dipraktikkan salah kaprah oleh beberapa jurnalis atau media massa (yang menggunakan kata ganti yang kurang tepat tapi lolos editing). Seolah-olah ada pemahaman yang dangkal, yang menginterpretasikan kalau “kita” itu sama artinya dengan “kami”. Kalau kebudayaan menyamaartikan “kita” dengan “kami” ini terus menerus dipraktikkan, lama-lama esensi bahasa dalam kata ganti itu akan luruh. Bisa dikatakan ada erosi bahasa yang disengaja.
Mungkin ada beberapa situasi yang menyebabkan ada salah kaprah pengartian “kita” dengan “kami”. Bisa saja si jurnalis tergesa-gesa mengetik naskahnya karena dikerjar deadline, dan editor meloloskannya juga karena tergesa-gesa. Bisa juga karena jurnalis atau editornya tidak paham apa beda “kita” dan “kami”.
Bisa juga karena si wartawan mengutip persis apa yang dikatakan narasumber dalam kalimat langsungnya, di mana si narasumber menggunakan kata ganti “kita” bukan “kami” dalam sebuah situasi yang tidak melibatkan langsung antara orang pertama dan kedua, seperti kutipan polisi yang menangani kasus tadi. Kalau yang terakhir yang terjadi, wah, gawat. Narasumber saja, yang umumnya orang ngerti dan pandai (karena alasan ini dia dipilih sebagai narasumber), tidak paham esensi dari sebuah kata. Bahasa benar-benar tergerus kalau begitu.
Tapi apa pun alasannya, pemahaman antara “kami” dan “kita” itu perlu dirapikan. Jangan sampai salah kaprah dengan mencampuradukan keduanya atau mengartikan keduanya sama. Kalau media terus menerus meloloskan itu, dan audiens menyimak berita yang tertulis dengan kata ganti yang kurang tepat itu memahaminya sebagai sebuah “kebenaran”, itu sama artinya peran media massa sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa, to educate, sudah melenceng jauh.(*)
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF






