Di Mana Letak Budi Pekerti, Moralitas Kita?

Di Mana Letak Budi Pekerti, Moralitas Kita?

PERTANYAAN itu akan lebih menyakitkan jika ditujukan kepada guru, para pendidik anak-anak bangsa ini. Bagaimana tidak, di tengah maraknya isu PENDEKAR (pendidikan karakter bangsa), begitu getolnya Dinas Pendidikan, baik di tingkat daerah maupun propinsi untuk menumbuhkembangkan perilaku berbudi pekerti luhur bagi peserta didik dan pendidik, masih ada pelanggaran terhadap moralitas yang disinylari dilakukan oleh seorang Pendidik.
 
Saya adalah pelatih kegiatan ekstrakulikuler teater di salah satu SMA di Kabupaten Madiun. Kebetulan sekolah tersebut mendapat kepercayaan untuk mewakili daerah maju ke tingkat propinsi dalam Festival/Lomba Penulisan dan Fragmen Budi Pekerti Tahun 2011. Salah satu ketentuan teknis dari festival tersebut naskah atau sutradara diutamakan peserta yang pernah ikut Workshop Penyusunan Naskah Fragmen Budi Pekerti 27-29 Mei 2011 di Hotel UB Malang.  Lantas, jika peserta tersebut belum mampu untuk menulis naskah yang baik, sebagai sutradara bagaimana?
 
Saya kebetulan diminta untuk menyutradarai dan naskah yang akan kami mainkan adalah naskah saya berjudul “Halte”. Naskah tersebut mulai saya tulis tahun 2010, dan mengalami perkembangan sampai dengan adanya even ini.

Di awal petemuan saya dengan Bu Mada, guru sekaligus peserta yang pernah ikut “Workshop Penyusunan Naskah Fragmen Budi Pekerti”, terjadi perbedaan pendapat. Ia meminta naskah dan sutradara diatasnamakan dia.  Tentu saja saya menolaknya, jika naskah dan sutradaranya memang saya. Proses latihan berjalan hingga akhirnya tiba saat lomba di Pendopo Dinas Pendidikan Jawa Timur, Jl Jagir Sidoresmo V Surabaya, 16 Nopember 2011 yang lalu.
 
Begitu tiba giliran kami tampil, MC membacakan bahwa penulis naskah dan sutradara adalah S  Mada Wati. Nama saya sama sekali tidak disebut. Begitu selesai pentas, saya mempertanyakan alasannya. Ia menjawab dengan jawaban sama sekali tidak bisa diterima akal sehat. Wah orang ini memang tidak bisa diajak ngomong!

Kebetulan juga Kabupaten Madiun berhasil mendapat dua penghargaan, yaitu 10 penyaji terbaik non ranking dan 10 naskah terbaik non-ranking.
 
Saya sudah minta saudari Mada untuk merevisi data penulis naskah ke tingkat kabupaten dan propinsi. Ia menawarkan uang kompensasi. Saya menolak. Alasan saya jelas : ini buat pembelajaran pada kita semua untuk menghargai karya orang lain. Karya seni itu mahal. Ini pembajakan, pembunuhan karya.

Terhitung dari hari Jumat tgl 18 Nopember sampai dengan hari Jumat tgl 25 Nopember saya sudah tiga kali SMS untuk segera menindak lanjuti permasalahan ini, tetapi tidak satupun ia membalas SMS saya.
 
Berita ini perlu saya publikasikan ke pada masyarakat umum. Harapan saya sebagai seorang pekerja seni:



  • Hargai hasil karya orang lain. Karena ini adalah hasil dari segala proses kreatif seseorang. Ini kekayaan intelektual.

  • Masyarakat kita, bahkan di dunia pendidikan kita senantiasa mengajarkan anak anak didik kita untuk berbudi pekerti luhur, tapi apakah ini contoh yang baik yang dilakukan oleh seorang oknum pendidik?

  • Piagam, sertifikat diburu untuk melengkapi kebutuhan sertifikasi atau sejenisnya oleh PNS . Kalau itu fiktif belaka, apa namanya?



Ony Suryono


Penggiat Teater di Madiun

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Share this :

Berita "Suara Kita" Lainnya

jual mobil

Dijual Honda Jazz 05 silver. Nopol AE kota. Body mulus kondisi istimewa. hub www.adakita.com
www.adakita.com

jual mobil

Dijual Panther Hi Grade'94 warna biru kondisi bagus hub:7766846
http://www.adakita.com

jual mobil

Dijual Baleno th 2000 warna hijau, mulus minat hub 7766846
http://www.adakita.com

jual rumah

Dijual rumah terletak di perumahan Cempaka Raya Regency. fasilitas PDAM. listrik. kitchen set. 3 kam...
http://www.adakita.com

jual mobil

Dijual Taft Rocky Tahun 1993. kondisi mulus istimewa. NoPol AE. hub 0351-7785259
http://www.adakita.com

jual mobil

Dijual mobil taruna CSX EVI, merah silver. kondisi istimewa. harga Nego (0351-7785259)
http://www.adakita.com