Ziarah ke Makam Kiai Ageng Basyariyah
KABUPATEN MADIUN - Wisata religi, khususnya ziarah, masih menjadi tradisi sebagian besar masyarakat kita. Karena itu, banyak yang berusaha untuk mencari tempat-tempat tertentu untuk menjalankan ritual yang memadukan cara pandang tradisi dengan agama tersebut.
Di Kabupaten Madiun sendiri ada beberapa tempat yang diyakini sebagai tempat-tempat yang membawa tuah dan jadi jujukan para peziarah. Salah satu tempat yang sering jadi tujuan wisata religi adalah makam Kiai Ageng Basyariyah, pendiri Masjid Sewulan, di Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.
Komplek pemakaman yang dapat dimasuki melalui pintu selatan masjid ini terbagi atas dua kompleks lokal, yang masing-masing dibatasi tembok setinggi kurang lebih 1,5 meter dengan ketebalan sekitara 30 sentimeter.
Makam Kiai Ageng Basyariyah tepat di belakang masjid di lokal pertama, dengan ciri khas bangunan beratap tumpuk dua. Sementara dinding bagian luar sebelah bawah bercat hijau, mengikuti tekstur batu di situ yang bergaya natural. Bagian atas berwarna putih.
Di depan bangunan terdapat tiga pohon bunga kamboja. Di dua tiang teras yang berwarna hijau terdapat keran air yang sengaja disiapkan untuk para pejiarah.
Peziarah yang datang ke situ membawa bermacam-macam tujuan. Ada yang sekadar menelusuri napak tilas, bahkan ada juga yang ngalap berkah.
Seperti yang ditemui oleh teman @dakita.com, ketika salat Ashar di masjid tersebut, Selasa (15/11) kemarin. Peziarah yang berambut gondrong berbadan kurus tersebut mengaku baru pertama kali datang di komplek Makam Kiai Ageng Basyariyah. Dia ada di situ sekitar lima hari.
Tujuanya ke tempat ini untuk napak tilas para leluhur. Dia menceritakan, sebelumnya dirinya juga sudah berkeliling sampai Kalimantan, Jawa Tengah, Bali dan Madura. "Tujuan saya napak tilas leluhur," ungkap pria yang enggan namanya disebutkan ini.
Memang Kabupaten Madiun menyimpan banyak obyek wisata yang beragam jenisnya. Yang apabila digali dan dipelihara dengan baik, selain dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat menjadi warisan luhur bagi generasi sekarang yang tidak ternilai harganya, dengan catatan itu dipelajari dengan benar.(hantoro).
FOTO: Kompleks makam Kiai Ageng Basyariyah.(prihantono)
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF






