Hidup Gatot untuk Jeruk Nambangan
KOTA MADIUN - Sepintas pria bertubuh gempal ini terlihat belum tua. Kebugaran fisiknya menghilangkan kesan kalau sebenarnya usia laki-laki ini sudah hampir 60 tahun. Dan kebugaran tubuh itu dia dapat setelah puluhan tahun tanpa putus asa terus merawat dan melestarikan buah jeruk yang pernah menjadi ikon dari Kota Madiun, tapi sekarang dilupakan itu.
Begitu dalam pengetahuannya terhadap produk buah satu ini. "Jeruk Nambangan memang berbeda dengan jeruk-jeruk lain yang sejenis, contohnya jeruk Bali yang sangat banyak dijumpai dipasaran. Jeruk Nambangan jika dibuka kulitnya tidak ulet, daging buahnya tidak gampang hancur dan airnya banyak," tutur Gatot penuh semangat kepada teman @dakita.com, Minggu (13/11).
Dia menambahkan, bahwa nilai ekonomis jeruk Nambangan sangatlah tinggi, dengan harga kisaran Rp 17-20 ribu rupiah per buah. Tak heran para penjual buah selalu memampang nama jeruk Nambangan untuk jeruk dagangannya karena kesannya yang "wah".
Laki-laki yang bertempat tinggal di Jl Ahmad Yani Gang 2, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Taman, Kota Madiun ini, telah melalui banyak hal dalam melestarikan buah ini. Mulai dari merasakan hasil panen dari tanaman kesayangannya melimpah, ditinggal teman petani lain, barang bantuan diambil kembali oleh pemerintah, sampai susahnya merawat tanaman ini karena keterbatasan alat. Namun semua itu tidak pernah mengendurkan semangatnya untuk terus berjuang.
Begitu besar semangat kakek satu cucu ini dalam membudidayakan buah yang replikanya dipampang di salah satu sudut Kota Madiun. "Apabila jeruk terus diberdayakan, tentu akan mengangkat nama dan pendapatan daerah kota Madiun," begitulah dia mengungkapkan harapan terhadap tanaman yang menopang perekonomian keluarganya.(wid/iwo)
FOTO: Gatot di antara jeruk-jeruknya.(wid)
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF






