Detail Articles

Disperindag Jatim Lakukan Survei Tertib Ukur Pasar Tradisional

Disperindag Jatim Lakukan Survei Tertib Ukur Pasar Tradisional

@dakita. Surabaya - Sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan pasar tradisional di Jawa Timur, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur mengadakan survei  tertib ukur.  Survei di lakukan mulai tanggal 2 hingga 20 juli mendatang.  Disperindag bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Konsumen Surabaya, dalam melakukan kegiatan ini.

Kepala Bidang Metrologi disperindag Provinsi Jawa Timur, Drs Helmi,MM mengatakan, acara ini sudah berlangsung untuk tahun ketiga. “Sampai saat ini sudah 105 pasar yang melakukan tertib ukur, dan diharapkan bisa mencapai 1000 pasar bisa dilakukan tertib ukur,” ujarnya kepada @dakita.com.

Ada empat indikator dalam tertib ukur kali ini. Yang pertama melihat legalitas timbangan apa sudah di kalibrasi atau belum dan masa berlaku kalibrasi. Kedua, perilaku pedagang dalam memperlakukan alat ukur timbangan apa sudah benar atau belum. Ketiga, dilakukan timbang ulang untuk produk-produk yang di kemas sendiri oleh pedagang. Dan yang keempat adalah timbang ulang produk yang telah di beli konsumen.

Helmi mengatakan, upaya tertib ukur pasar tradisional diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat akan pasar tradisional. Dibandingkan dengan pasar tradisional di Thailand, negara kita masih jauh tertinggal. Karena itu, salah satu sisi dari pasar tradisional ini harus mulai dibenahi.

Semestinya kedepan, bukan hanya tertib ukur saja. Akan tetapi pasar tradisional juga harus memenuhi unsur bersih, nyaman, dan aman. Untuk bersih lokasi, misalnya harus ada tempat sampah dan lokasi lapak daging harus ada saluran limbah langsung ke tempat pembuangan limbah. Lapak juga harus bersih, seperti bahannya harus terbuat dari plastik atau bahan yang mudah dibersihkan. Produk yang dijual juga bersih, dan tidak terkontaminasi dengan tanah.

Sedang aman adalah tempat parkir yang luas, tidak ada copet. Untuk nyaman bagi pengunjung yaitu tidak berdesakan, tidak becek, tidak kepanasan dan kehujanan. “Jika pasar tradisional bisa memenuhi unsur itu, maka akan bisa bersaing dengan pasar modern,” ujarnya.

Pasar tradisional bukan saja pusat untuk transaksi jual beli saja, namun sebagai pusat perputaran roda ekonomi masyarakat. “ Transaksi di pasar tradisional  bisa mencapai 70% peredaran uang di suatu daerah,” jelasnya.

Di Jawa Timur, saat ini ada 1874 pasar tradisional. Dari jumlah itu pihaknya mengakui sebagain besar masih belum layak. Karena itu dengan upaya tertib ukur, paling tidak ada upaya meningkatkan kualitas layanan. Pihaknya juga berharap kepada pemerintah daerah dan perusahaan pasar daerah senantiasa meningkatkan kualitas pasar tradisional sehingga mampu bersaing dengan pasar modern. (vj)

Keterangan Gambar : Ilustrasi Pasar Tradisional                                                                                                                                                    

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Daerah Kita" Lainnya